Minggu, 14 April 2013

UN Tahun ini, . . .

    Assalamu'alaikum semuanya! Lama tak jumpa dengan seluruh fans blog ane. He he, meski ane yakin nggak ada yang koment! (Ngarep banget!!)
     Pertama, kita akan flashback alias jalan mundur ke tahun-tahun sebelumnya. Ceritanya kita akan menjadi Time Traveller! Wuiiihhh! Hebat bener?! Tapi cuma dalam khayalan. Kalo ada Time Traveller beneran, udah pasti manusia masa depan bakal kembali ke masa lalu. Tahu nggak kenapa? Ya, jelas aja! KIAMAT gitu lho! Ha ha ha. Cukup humornya, sekarang kita melangkah ke persoalan serius. 
    
UN. Siapa yang nggak tahu program pemerintah yang satu ini. Program yang bisa membuat jutaan warga negeri Indonesia menangis darah (agak keterlaluan mungkin). Atau bahkan di beberapa kasus yang pernah ane dengar, sampai ada yang bunuh diri karena program ini. Jadinya memang nangis darah beneran. Nah, bicara masalah UN, sobay-sobati ini masih ingat dengan kasus SD N Gadel Surabaya tahun lalu? Pastinya masih ingat kan? Berita yang sempat membuat ane shock berat! Betapa enggak! (Kurang pas. Harusnya betapa tidak. Tetapi karena satu dan beberapa alasan yang kurang jelas, akhirnya ane ganti). Seorang anak usia SD (bayangin adik kita yang masih kecil imut-imut), dengan polosnya (kelas VI SD masak masih polos?) mengadukan perihal gurunya (bukan hal baru sekarang kalau murid mengadukan gurunya) yang menyuruh dia dan temen-temennya untuk mencurangi program pemerintah ini. Wah, bener-bener pidana berat, ya nggak? Enggak juga kali, secara banyak juga korupsi yang akibatnya juga sama-sama mencurangi pemerintah. He he.
     Ane kutipkan dari Kompasiana
"Akhirnya sampailah berita tersebut ke media massa yang mem-blow up berita tersebut. Pemerintah Kota Surabaya melakukan penelusuran atas kasus itu. Hasilnya, kepala sekolah dan dua guru di sekolah itu dicopot. Kisah selanjutnya sungguh menyesakkan dada. Para wali murid yang lain marah dan menganggap keluarga Ibu Siami sok jadi pahlawan dan membesar-besarkan masalah"
sumber : http://politik.kompasiana.com/2012/06/16/tragedi-sebuah-kejujuran-470087.html
   
Lihat kata-kata yang ane bold plus plus. Kata si empunya, melaporkan kecurangan UN itu membesar-besarkan masalah? Weleh-weleh! Tapi ini ane comot dari si empunya lho! Bener enggaknya kalo ada yang bilang membesar0besarkan masalah, ane nggak tanggung.
Lalu, kalau melaporkan kecurangan UN bisa disebut sebagai masalah kecil yang TIDAK PERLU DIBESAR-BESARKAN, apa masalah besar yang bisa kita laporkan pada Panitia UN? 
     Next, kutipan lagi dari sumber yang sama.
"Mereka mendatangi, mendemo, dan mengintimidasi keluarga Ibu Siami beberapa kali dan menuntut agar Ibu Siami meminta maaf dalam pertemuan terbuka di Balai RW. Pada pertemuan itu,warga tidak mau menerima permintaan maaf tersebut, malah mencaci maki, mencerca,dan berteriak-teriak mengusir keluarga Ibu Siami dari kampung tempat tinggalnya sendiri."
     Tambah asik aja nih ya? Udah disuruh minta maaf, tapi saat minta maaf malah dicaci, diusir pula. Weleh-weleh! Sebenernya, warga yang mencaci dan mengusir ini, apa termasuk pemberantas kejjujuran atau bagaimana? Ane nggak tahu deh! Ada istilah, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Kalo orang tuanya begini, bagaimana pula anak-anaknya?
     Selanjutnya, ane kutip masih dari sumber yang agak sama, Kompas,
"Saya dimarahi dan dimusuhi teman-teman di sekolah. Kata teman-teman, guru-guru jadi kena masalah gara-gara saya. Padahal, saya cuma bicara jujur. Kata ayah dan bunda, kita harus selalu jujur."
Demikian dikatakan Muhammad Abrary Pulungan (14) seusai pemutaran video dokumenter kolaborasi "Temani Aku Bunda" dan diskusi "UN untuk Apa?", Sabtu (6/4/2013) lalu, di XXI Epicentrum, Jakarta. Video dokumenter berdurasi 77 menit yang dibuat selama lebih dari satu tahun itu berkisah tentang pengalaman Abrar yang pernah melaporkan kecurangan ujian nasional (UN) di sekolahnya, SD Negeri 06 Petang, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, dua tahun lalu atau tepatnya Mei 2011.
sumber :
http://edukasi.kompas.com/read/2013/04/08/08492234/Para.Pengungkap.Kecurangan.UN.Itu.Kini.Berjuang.Sendiri 
     Memang benar kata orang sepuh, jaman saiki, wong jujur bakal ajur! Hadeh! Pusing mikirin nasib anak-anak yang jujur. Mungkin lebih baik jika kita semua saling membohongi ya? Jadi nggak ada yang bakalan marah. Tapi sepanda-pandai tupai melompat akan jatuh jua.
      Dari dua kisah Si Bolang Pembela Kejujuran di atas, ane bisa simpulkan ternyata pendidikan di negara kita masih kurang. Terutama dari segi agamanya. Coba kalo kita menjunjung tinggi ajaran Rasulullah saw. tentang kejujuran. Pasti UN nggak perlu sampai ada 20 paket seperti sekarang. Dengan adanya 20 paket soal UN ini, ane masih belum percaya bahwa kali ini akan dilaksanakan dengan kejujuran. Kata orang, panggah jek pinter malinge alias masih lebih pintar malingnya. Lalu menurut sobat-sobati semua, apa yang perlu dibenahi terlebih dahulu? Paket soal? Keamanan? Panitia? Atau apa?
    
Kalo menurut ane, lebih dulu kita benahi cara berfikir masyarakatnya. Maksudnya, banyak masyarakat kita yang berfikir sekolah adalah yang utama. Dengan sekolah, hidup sudah terjamin. Kerja udah pasti. Tapi, menurut ane, enggak. Banyak orang sukses tamatan SD. Banyak preman tamatan SMA. Dan banyak, sangat-sangat banyak KORUPTOR JEBOLAN PERGURUAN TINGGI TERNAMA. Dari sini, ane heran. Apakah di kampus mereka diajari langkah-langkah korupsi secara aman dan terkendali? Lalu ane tanya pada preman tamtan SMA. Apakah mereka di SMA diajari langkah cepat dan praktis menjadi preman? Terakhir ane tanya pada orang-orang sukses yang tamatan SD. Apakah mereka di SD diajari langkah aman menjadi orang sukses?
     Jawabannya, ane dan ente udah pada tahu semuanya. 
   Ane pernah baca buku Bang Chu-Diel (yang kemaren ane repost tulisan di blognya) yang judulnya Sekolah Dibubarkan Saja. Dari situ, ane banyak mendapatkan pelajaran yang berharga tentang kegunaan sekolah bagi masa depan kita dan anak cucu kita. Ternyata, menurut Bang Chu-Diel yang udah survei langsung ke TKP, sekolah di jaman sekarang lebih dijadikan ajang mencari proyek a.k.a penggalangan dana alias ajang bisnis. Tapi, nggak semua begitu meski banyak yang begitu. 
    Kejujuran. Kata yang ampuh. Ampuh sehingga bisa membuat orang mendapatkan pujian. Tapi ampuh juga buat bikin orang babak belur dan depresi menahun. He he. Memang. Kejujuran itu sulit seperti sabda Nabi, katakanlah yang benar walaupun itu pahit. Dan ane kasih hormat setinggi-tingginya buat kalian, anak-anak pemberani dan jujur. Semoga kalian selalu dalam lindungan Allah swt. dari orang-orang yang mengingkari kejujuran.
   Kembali ke masalah UN. Bagi sobat-sobati, udah siap buat UN besok belum nich? Saya yakin jawabannya siap. Terus, udah siap buat melaksanakan UN secara jujur belum? Kalo yang ini, ane agak ragu-ragu. 
     Oh iya. Dalam bukunya Bang Chu-Diel, ane pernah menemukan kata-kata yang kurang lebih seperti ini, "wacana-wacana seputar UN akan kembali tenggelam saat UN sudah selesai dan akan kembali muncul saat UN digelar". Jadi, istilah lainnya, wacana-wacana seputar kecurangan UN dan antek-anteknya hanyalah pemanis buatan kalo ane pikir. Hemph, UN, UN! Gue suka gaya loe, UN! Untuk menyambut kedatangan loe, gue harus nangis-nangis. Tapi setelah loe pulang, gue bersorak riang gembira. Good Job!
    
Terakhir, ane punya saran nih. Buat seluruhnya aja ya, entar kalo UN udah selesai, coba loe tanya ama diri loe sendiri, Ijazah gue halal nggak yah? Terus lamaran kerja gue? Terus uang hasil jerih payah gue?
Oke, thanks buat yang mau membaca curhat gue, eh ane. He he. Ane ucapin selamat menempuh hidup baru karena setelah UN, kalian akan menuju dunia yang sebenarnya. 
Wassalamu'alaikum semua!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar