“Kalau saat itu kita merasa bahwa kita yang harus dihormati karena sedang beribadah, maka kita sedang takabur yang sangat halus. Seharusnya yang dihormati adalah mengajinya bukan kitanya. Kalau kita mengeraskan suara karena agar bisa didengar, maka posisi kita selayaknya imam dalam sholat.”
Saturday, 23 January 2016
Sesuatu yang Halus Itu...
“Kalau saat itu kita merasa bahwa kita yang harus dihormati karena sedang beribadah, maka kita sedang takabur yang sangat halus. Seharusnya yang dihormati adalah mengajinya bukan kitanya. Kalau kita mengeraskan suara karena agar bisa didengar, maka posisi kita selayaknya imam dalam sholat.”
Calon-Calon Koruptor
Monday, 17 August 2015
Berbagi Itu Komunikasi
Saya melihat dari sini, bahwa sebenernya banyak cara dari kita untuk berbagi bahagia dengan orang lain. Banyak cara dari kita untuk bisa menghibur orang lain. Bahkan orang yang tak kita kenal sekali pun. Tapi apesnya karena kita adalah manusia yang memang diciptakan untuk lupa dan salah. Untuk tidak sempurna. Bukan berarti hal ini menjadi alsan bagi kita untuk membuat orang-orang yang kita temui, baik kenal atau tidak, menjadi diacuhkan bahkan marah, kesal atau hal negatif lainnya. Jika kita bisa membuat seseorang tersenyum dengan perlakuan kita kepadanya, kenapakah kita tidak mau melakukannya?
Kenapa kita tidak mau bertegur sapa dengan seseorang yang kita temui sewaktu kita duduk di bangku taman? Kenapa kita tidak mau berkenalan dengan seseorang yang kita temui di bis kota, di kereta apai dan lainnya? Sekalipun mungkin hanya sekali itu kita bertemu, toh tidak ada ruginya? Dan itulah yang saya kira membuat Indonesia dan bangsa Asia disebut sebagai bangsa yang ramah.
Mungkin dari kalian ada yang pernah melihat di televisi, di youtube atau hanya sekedar membaca artikel di internet tentang beberapa orang yang berakting untuk melihat bagaimana reaksi orang di sekitarnya. Ada yang dengan sengaja menjatuhkan dompetnya, sengaja meninggalkan barang berharganya untuk melihat reaksi orang-orang yang tak dikenalnya di sekelilingnya. Kenapa ada video seperti itu? Karena kita, percaya atau tidak, mulai kehilangan kepercayaan dengan orang-orang di sekitar kita. Dan penyebabnya adalah kita kehilangan komunikasi kita sendiri. Kita mulai hidup dalam dunia kita sendiri-sendiri. Mulai sibuk dengan orang-orang yang kita kenal saja, padahal merekalah yang selalu membuat kita jengkel, marah dan sebagainya. Kita tidak mau menyapa orang-orang yang tak kita kenal. Padahal nggak jarang semua masalah kita bisa terpecahkan berkat mereka, orang-orang yang tak kita kenal.
Saya tidak menyalahkan adanya teknologi semacam smartphone, webcam, dan lainnya. Semua itu positif jika kita bisa menempatkan sesuai porsinya. Jujurlah pada diri Anda sendiri. Ketika Anda rapat dan sedang menunggu yang lain yang belum hadir, apa yang Anda lakukan? Lebih banyak fokus ke smartphone Anda kan? He he. Saya pun begitu.
Oke mari kita urutkan. Pertama, kita bisa berbagi kebahagiaan dengan semua orang, sekalipun kita tidak kenal. Kedua, kita mulai kehilangan komunikasi dengan orang-orang di sekeliling kita dengan alasan masih sibuk dengan orang yang kita kenal. Ketiga, penempatan kecanggihan teknologi yang salah memperburuk komunikasi kita.
Dan apa yang dapat Anda simpulkan?
“Dunia ini adalah cermin. Apa yang kau lihat dari seseorang, maka itulah yang dilihat orang lain padamu. Apa yang kamu lakukan pada orang lain, maka itulah perlakuan orang kepadamu”
Tulungagung, 16 Agustus 2015, 08.22
Tata Krama dalam Jabatan
Kang Ijo sedang duduk manis menghadap kiblat. Meski dari luar terlihat menghadap ke arah jalan raya, tapi pikirannya melayang kesana kemari.
“Assalamualaikum” Kang Ijo menoleh.
“Waalaikumussalam, eh Kang. Monggo duduk di sini. Maaf Kang nggak ada kopi”
“Nggak apa-apa, Jo. Kopi itu Cuma sebagai pemanis. Berarti nggak harus ada”
“He he, iya, Kang”
“Besok untuk acara lomba gimana, Jo?”
Kang Ijo mesem kecut. Hatinya sedang dongkol gara-gara kemarin disuruh-suruh sama ketuanya. Kang Ijo masuk sebagai panitia lomba agustusan. Dan entah karena apa, ketua lomba tahun ini adalah anak muda. Mungkin bisa dibilang KKN, karena Murdi, si ketua lomba , adalah keponakan Pak Lurah. Kang Ijo sebenrarnya tidak mempermasalahkan siapa yang jadi ketua. Nggak harus orang tua. Tapi kalau bisa menjadi pemimpin yang bijaksana, baginya dipimpin anak muda juga boleh saja. Tapi kalau cara memimpinnya seperti Murdi, Kang Ijo bisa sakit hati.
“Jo!” Kang Ijo tersentak.
“Iya, Kang. Justru itu masalahnya, Kang. Saya jadi koordinator lapangan buat lomba besok. Tapi ketua saya itu lho!” Kang Ijo agak menekan kata-katanya.
“Kenapa, Jo? Kamu merasa terhina dengan posisi kamu?”
“Terhina bagaimana?”
“Ya, biasanya senior kan pasti canggung kalo dijadikan bawahan dari yuniornya?”
“Kalo itu sih saya nggak masalah, Kang. Bagi saya, nggak masalah siapa yang di atas, siapa yang di bwah, pokoknya bisa saling memahami posisi masing-masing dan tetap menjaga tata krama”
“Lha terus apa masalahmu, Jo?”
“Begini, Kang. Yang menjadi masalah saya adalah menjaga tata krama antara senior dan yunior”
“Owh, ya gimana ya, Kang”
“Saya mungkin masih bisa menerima perlakuan Murdi yang kurang sopan. Tapi lha wong yang lain juga pada komplain, Kang. Dan saya yang jadi sasaran untuk memepringatkan Murdi. Tapi saya bingung bagaimana bahasanya untk bisa membuat Murdi sadar”
“Nah itu, menurut saya ya Kang. Jangan berharap apa yang kamu katakan itulah yang akan membuat Murdi sadar”
“Astaghfirullah” Kang Ijo segera bersyahadat sejenak setelahnya. “Iya, Kang. Saya khilaf. Terus bagaimana, Kang?”
“Yang kedua, kamu cari tahu siapa orang yang dekat dengan Murdi dan omongannya selalu dihormati oleh Murdi”
“Jadi bukan saya yang ngomong?”
“Ya tetep kamu yang ngomong, tapi kamu harus membawa seseorang yang dihormati Murdi biar dia sedikit-sedikit menerima”
“Owh, oke Kang. Terus?”
“Kamu kirim dia hadiah fatihah yang banyak, insyallah akan dibuka jalannya”
“Hmm... iya, Kang. Memang selain usaha, doa juga penting”
“Iya, Jo. Usaha harus diabrengi dengan doa. Usaha tanpa doa bisa jadi kufur, doa tanpa usaha namanya tamak”
“Iya, Kang”
Sejenak percakapan mereka berhenti. Lalu lalang kendaran semakin ramai. Panas mentari mulai terasa. Kang Ijo menyulut rokoknya. Jam delapan nanti, dia harus ke balai desa rapat bersama warga yang juga jadi panitia untuk persiapan lomba besok.
“Memang susah, Jo”
“Apanya, Kang?”
“Menempatkan diri di tengah-tengah masyarakat. Di tengah-tengah itu artinya harus bisa menyeimbangkan, sedang masyarakat itu pasti berbeda”
Kang Ijo mengangguk pelan sembari mengebulkan asap rokok pelan. Wajhanya yang tadi masam perlahan cerah. Mungkin maslahnya telah pergi seiring kepulan asap rokok yang dihembus angin pagi.
“Yang penting kita harus tetap menjadi diri sendiri di tengah gelombang yang menarik kita untuk menjadi orang lain, ya kan Kang?”
“Iya, Jo. Menjadi diri sendiri. Jangan sampai lupa siapa diri kita. Man arafa nafsahu, arafa robbahu. Siapa yang tahu dan menjaga pengetahuan serta mengamalkan pengetahuannya akan diri pribadi maka akan diberi tahu Sang Robb, diberi jalan yang lurus, diberi kemudahan dari Sang Pemurah, diberi kelapangan dari Sang Pengasih”
“Mantap, Kang. Ya sudah, Kang. Saya mau ke balai desa dulu. Assalamualaikum”
Tulungagung, 16 Agustus 2015, 07.58
KKN
Saya sedang KKN saat ini. Di Desa Tanggul Welahan Kecamatan Besuki Kabupaten Tulungagung. Kurang lebih selama satu bulan saya harus berada disini untuk mengabdikan diri. Tidak jauh berbeda dengan eL-Dsan, hanya saja visi dan misi yang berbeda. KKN lebih terasa formal, memasuki lembaga-lembaga pendidikan formal khususnya.
KKN STKIP PGRI Tulungagung, tempat saya kuliah diberi tema KKN Posdaya yang merupakan program dari sebuah yayasan bernama Damandiri. KKN Posdaya ini sebetulnya adalah reka ulang dari LKMD yang dulu sempat ada di jaman pemerintahan Bapak Soeharto. LKMD yang dulu merupakan cikal bakal berdirinya berbagai macam unit lembaga berbasis kemasyarakatan seperti Posyandu, Karang Taruna dan lainnya, dihapus karena alasan politis. Dan saya kurang paham dan tak mau tahu soal itu.
Dan sekarang melalui tangan para mahasiswa semester lima yaitu saya dan ratusan mahasiswa lainnya, LKMD akan dibangun kembali dengan format yang sedikit berbeda. Posdaya mengedepankan misi untuk menyatukan semua lembaga yang dulu bersatu dalam satu wadah lama yaitu LKMD menjadi satu dalam Posdaya dengan dukungan penuh dari Yayasan Damandiri. Hanya itu yang saya tahu, ada kurang lebihnya saya mohon maaf wass...
He he. Nggak, saya nggak akan mengakhirinya secepat itu. Dari tadi bicara serius ternyata cukup menguras energi dan pikiran saya jadi ikut serius (emang biasanya enggak?)
KKN, dulu sewaktu masih pembekalan saya merasa KKN it sulit banget. Program inilah itulah atau apalah yang merupakan program wajib terlaksana selama KKN satu bulan. Bayangkan! Satu bulan harus menjalanakan berbagai macam program belum lagi ditambah program dari usulan teman-teman. Hemph!
Memang semua yang hanya kebanyakan teori hanya akan menjadi beban pikiran. Semua yang hanya dipikirkan tanpa mengambil tindakan hanya akan membuat wadah di kepala kita penuh. Jadi laksana mulut galon, pelaksanaan semua teori adalah lubang untuk membuang air galon agar galon kembali bisa diisi ulang. Karena kalo tidak dibuang dan terus diisi, galon akan penuh dan akhirnya air galon akan tumpah menjadi air mata. He he. Jadi sok puitis.
Sudah berjalan seminggu lebih tiga hari, saya dan kelompok 8 melaksanakan KKN di desa ini. SDA-nya lancar, air, listrik ya meski mati selama dua hari tapi cukup untuk keperluan kegiatan. Teman-teman saya yang dari Ngunut menyebar ke sepuluh desa yang masuk kawasan Kecamatan Besuki ini. Saya di kelompok 8 ini bersama dengan Kang Nasrul. Ada beberapa teman saya yang dalam kelompoknya tidak bergandengan dengan satu grup dari Ngunut. Saya saja kalau jadi mereka mungkin males-malesan karena harus mulai menjalin hubungan dengan orang-orang baru yang pasti belum kenal. Tapi alhamdulillah, kami semua dari STKIP Ngunut bisa berbaur karena memang rata-rata anak pondok itu mudah bergaul. Dan semoga saja KKN kami semua lancar. Amin.
Tulungagung, 15 Agustus 2015 06.03
Setan Lebih Bertauhid?
“Kang, tadi malam, Kyai ceramah tentang apa?” tanya Kang Ijo di tengah waktu istirahat dari tugas bersih-bersih sekolah.
“Tentang tauhid, Jo. Lha kamu tadi malam kemana kok nggak kelihatan?”
“He he. Saya ketiduran, Kang. Jadi, boleh dong kalau ....”
“Ya, ya. Tadi malam Kyai membicarakan kesalahan tentang penafsiran ketauhidan setan pada Allah yang saat ini banyak digunakan orang-orang ‘luar’ untuk menyindir ketauhidan manusia”
“Ha?! Setan bertauhid? Nggak salah, Kang?”
“Ya itu makanya Kyai membetulkannya. Gini, Jo. Ada orang-orang yang menafsirkan kisah perintah sujud kepada Nabi Adam dengan penafsiran yang salah. Ketika setan membangkang untuk menurut perintah sujud pada Nabi Adam, mereka menafsirkan bahwa setan itu membangkang karena tidak mau menduakan Allah. Mereka mengira bahwa dengan perintah sujud itu sama artinya syirik terhadap Allah”
Sejenak Kang Ijo mencerna keterangan Kang Item. “Kalau dipikir-pikir bisa juga benar kalau ternyata setan lebih bertauhid”
“Nah, kan? Hati-hati, Jo”
“Lha, kalau dipikir kan memang begitu, Kang”
“Jadi kamu mau mengatakan kalau malaikat sudah syirik dengan menuruti perintah Allah untuk bersujud pada Nabi Adam?”
“Wah, iya juga, Kang. Lha terus bagaimana dengan penjelasan Kyai?”
“Setan tidak bertauhid”
“Alasannya?”
“Karena saat itu sesungguhnya setan sedang menduakan Allah”
“Loh?”
“Karena mereka memilih ego mereka daripada Allah”
Kang Ijo kembali diam memikirkan jawaban Kang Item. “Masya Allah. Sampai segitu halusnya ya, Kang?”
Kang Item mengangguk mantap. “Masalah tauhid tidak bisa dianggap remeh, Jo. Karena dalam perkataan dan perbuatan kita, syirik yang halus sekalai bisa masuk dan merusak iman kita perlahan”
“Owh, karena itulah kita disuruh bersyahadat sebelum melakukan sholat?”
“Iya, Jo. Dan Kyai menambahkan, bahwa dari kisah sujud tadi kita bisa mengambil hikmah”
“Apa itu, Kang?”
“Kadang Allah menyuruh kita untuk melakukan hal yang tidak bisa dicerna bukan saja oleh akal tapi kadang hati ini juga tidak bisa mengerti akan perintah-Nya. Tetapi kita tetap harus berhusnudzon bahwa apapun yang diperintahkan-Nya adalah baik dan tak mungkin Allah menjerumuskan kita”
“Itu maksud dari bahwa semua takdir itu baik, Kang?”
“Ya, Jo. Tapi ingat, Allah tidak terikat aturan kewajiban untuk berbuat baik pada kita seperti kisah khilafnya Syekh Hasan Al-Asy’ari dengan gurunya sehingga menjadi dasar munculnya Ahlussunnah wal jamaah”
“Alhamdulillah” ucap Kang Ijo.
“Alhamdulillah” susul Kang Item.
Tulungagung, 07.41, 24 Mei 2015
Tukang Parkir
Kang Item sedang duduk merokok di bawah pohon asem. Dia sedang galau memikirkan dirinya sendiri. Perannya di masyarakat akhir-akhir ini mulai meningkat. Dari jadi muadzin, lalu imam sholat, imam jamaah yasin, dan beberapa hari kemarin dia ‘disowani’ beberapa orang yang meminta nasehat. Kang Item begitu asyik berpikir sampai-sampai Kang Ijo yang datang tak dihiraukannya.
“Assalamualaikum, Kang” sapa Kang Ijo pelan takut mengganggu konsentrasi seniornya.
“Waalaikumussalam” jawab Kang Item masih tak bergeming dari raut muka sebelumnya. Benar-benar terlalu mendramatisir keadaan sepertinya Kang Item ini. Kang Ijo demi melihat ekspresi Kang Item, dia diam. Hanya duduk menemani Kang Item sembari berdzikir.
“Alhamdulillah” ujar Kang Item tiba-tiba.
“Alhamdulillah” Kang Ijo ikut-ikutan berucap hamdalah. “Kenapa, Kang?”
“ini lho, Jo. Saya baru dapat ilmu lagi”
“Alhamdulillah, boleh dibagi, Kang” kata Kang Ijo penuh harap.
“Bisa bahkan harus”
“Alhamdulillah, monggo, Kang”
“Begini, Jo. Menjadi imam itu ternyata nggak jauh beda dengan menjadi tukang parkir”
“Loh?”
“Bentar, Jo. Masih bersambung”
“Owh, iya. Monggo dilanjutkan”
“Tukang parkir itu lusuh, pakaiannya seragam, bawaanya sempritan buat mengatur mobil parkir. Sedang yang diparkirkan itu pasti orang kaya, bajunya mentereng, mobilnya mewah. Itu gambarannya imam yang selalu merendah di hadapan para makmum. Hanya berkalung tasbih biar selalu ingat siapa yang memberi tasbih. Sedang makmum itu selalu ‘terlihat’ kaya, punya segalanya tapi nyatanya miskin petunjuk makanya mereka mencari imam biar dapat petunjuk”
“Tapi bukan petunjuk togel tho, Kang?” canda kang Ijo.
“Ya, bukanlah. Ngawur kamu”
“He he. Monggo dilanjutkan lagi”
“Dan jadi imam itu jangan lupa seragamnya”
“Apa itu, Kang?”
“Seragam itu mesti sama, jadi antar imam mushola sini dan mushola lainnya, haruslah sama dasarnya. Meskipun nanti selalu berbeda dalam penjabarannya”
“Ooo ....”
“Terus konsekuensinya. Jadi imam alias tukang parkir itu mesti menanggung kerugian dari makmum yang melaksanakan dawuhnya imam yang salah. Tukang parkir mesti mengganti rugi kalau sampai mobil yang diparkir sampai lecet padahal sudah mengikuti instruksi dengan benar”
“Kesimpulannya?”
“Kesimpulannya, jadi imam, entah itu imam mushola, imam organisasi, imam partai, bahkan imam negeri ini, jangan bangga kalau merasa jadi orang berpangkat. Pangkat kita nggak jauh beda dengan tukang parkir. Harusnya kita yang berpakaian seadanya, makan seadanya, bukannya malah makmum kita yang harusnya begitu”
“Alhamdulillah” ucap Kang Ijo.
“Alhamdulillah” tambah Kang Item.
“Sepertinya ada yang kurang, Kang?”
“Apa, Jo?”
“Alah emboh, Kang! Wahaha ....” kata Kang Ijo yang disambut tawa renyah Kang Item di bawah pohon asem.
Tulungagung, 09.05, 20 Mei 2015
Melihat Kepribadian Kita Dari Gaya Melihat Film
Assalamualaikum semuanya selamat pagi, selamat tersenyum dan tetap menjaga diri untuk selalu enjoy!
Pagi-pagi enaknya liat Spongebob Squarepants sambil ditemani kopi panas dan cemilan. Apalagi kalau ditambah pegangan tangan yang hangat, wiiiiih! Asyik pasti.
Spongebob? Buat anak muda? Kekanakan kaleee ... Tapi nggak bisa kita langsung menilai seperti itu. Liat siapa yang buat komik Naruto? Kekanakan? Liat siapa yang buat Final Fantasy? Kekanakan? Tapi itu yang buat, bukan yang seharusnya nonton? Oh, ayolah! Darimana kita bisa mendapat kata ‘seharusnya’ dalam pembahasan film? Apakah kita tidak boleh melanggar kata ‘seharusnya’ hanya karena malu disebut kekanakan? Justru kita yang menonton kartun ‘di jaman sekarang’ ternyata lebih bermoral daripada tontonan orang dewasa. Tahu dong apa yang saya maksudkan?
Film, apa yang bisa Anda dapatkan dari menonton karya seni visual audio ini? Hiburan dari stress pekerjaan, tugas kuliah atau problem kehidupan? Atau inspirasi? Atau motivasi? Ataukah hanya iklan semata yang akan hilang begitu selesai?
Dari situlah saya mendapat inspirasi untuk mengkategorikan orang dari bagaimana cara mereka melihat film. Saya bukan psikolog, tak tahu banyak tentang macam-macam kepribadian dan hanya sekedar berbagi. Boleh kalian percayai boleh tidak. Ini hanya tulisan lepas yang bisa dikritik dan bisa diacuhkan. Yang jelas, saya percaya segala hal kecil yang kita lakukan selalu berimbas pada bagaimana kita menjalani hidup.
Ok, mari kita lihat Anda termasuk dalam kategori yang mana.
Pertama, orang yang melihat film hanya sebagai iklan semata. Dalam hal ini, Anda hanya menggunakan aktivitas melihat film sebagai pengisi waktu saja. Tak ada imbas apapun untuk kemudian Anda merasa bahagia, terinspirasi atau apalah, yang jelas tidak ada perubahan berarti dalam diri Anda ketika filmnya sudah selesai. Maka seperti itulah ketika Anda melihat keberlangsungan hidup di sekitar Anda. Anda melihat segala yang terjadi di luar Anda hanya selingan semata. Hanya sebuah kejadian yang tidak Anda pedulikan, mereka berjalan begitu saja tanpa ada makna buat Anda. Orang seperti ini biasanya cenderung tak peduli pada lingkungan sekitar, tertutup dan hanya mementingkan diri sendiri. Mementingkan bagaimana cara mencari uang dan isi perut daripada berkomunikasi dengan orang lain untuk sekedar berbasa-basi.
Kedua, orang yang melihat film karena tertarik dengan sinopsis dan atau jalan cerita yang katanya, menarik. Anda yang masuk dalam tipe ini, melihat film sebagai sebuah jalan hidup yang diimpi-impikan. Anda ingin sekali melihat jalan hidup orang lain, yang begitu Anda impikan akan terjadi pada diri Anda, melihat sesuatu yang berbeda dari apa yang Anda jalani selama ini. Anda ingin kejutan dalam setiap ceritanya, sesuatu yang membuat Anda penasaran bagaimana keberlanjutannya. Dan akan kecewa begitu ceritanya tidak seperti yang Anda tebak. Ada dua tipe dari orang yang seperti ini. Pertama, jika Anda tidak kecewa dengan ceritanya yang ternyata berbeda dengan tebakan Anda, maka Anda termasuk orang yang tidak suka memaksa orang lain untuk berperilaku seperti yang Anda inginkan. Anda cenderung menyerahkan segalanya pada sutradara kehidupan, atas apa yang terjadi di sekitar Anda. Meskipun itu sudah mainstream dan terlalu ‘biasa’. Dan sebaliknya, jika Anda merasa kecewa dan kurang puas jika ceritanya ternyata terlalu mainstream, maka Anda orang mungkin suka tantangan tapi suka bosan dengan ke’biasa’an yang mengelilingi Anda. Sehingga cenderung memaksakan ketertantangan Anda pada orang lain. Memaksa orang untuk membuat Anda merasa tertantang.
Ketiga, orang yang melihat film dan mendapatkan inspirasi atau motivasi setelah filmnya selesai. Anda dalam posisi ini melihat film sebagai suatu karya biasa pada awalnya. Tetapi ketika satu adegan memperlihatkan kejadian yang membuat Anda merasa mendapatkan pencerahan, Anda mulai tertarik dengan film ini dan penasaran bagaimana endingnya. Karena mungkin Anda akan menemukan jalan keluar dari permasalahan yang sedang Anda hadapi. Atau Anda merasa mendapatkan inspirasi bagaimana cara menjalani hidup yang baik untuk diri Anda. Orang yang seperti ini adalah orang yang melihat kehidupan sebagai sesuatu yang biasa pada satu saat dan melihatnya sebagai sesuatu yang menyenangkan pada saat yang lain. Bukannya plin plan, tapi orang seperti ini adalah orang pada umumnya.
Keempat, orang yang melihat film tanpa melihat genre atau bagaimana jalan ceritanya, atau berharap mendapat inspirasi, tetapi bisa melihat film sebagai sebuah cara lain untuk belajar. Memang mungkin pada awalnya Anda akan menganggap film sebagai sebuah hiburan, atau memang penasaran dengan jalan ceritanya, berharap mendapat inspirasi dan lainnya, tetapi sebelumnya Anda sudah berniat untuk bisa memetik pelajaran dari film yang Anda tonton. Entah itu di bagian akhir atau di bagian awal, yang penting Anda bisa belajar dari film tersebut. Orang seperti ini, adalah orang yang menganggap hidup adalah belajar tanpa membedakan dimana atau bagaimana dan kapan. Mereka adalah orang yang selalu optimis dalam hidup dan selalu mendapatkan ilmu dimanapun dan kapanpun.
Itulah tadi empat kriteria orang dilihat dari cara mereka melihat film, menurut saya yang bukan ahli psikologi dan tidak terlalu tahu bnayak tentang psikologi. Oh, ada satu lagi nih. Anda yang sering kali skip atau melompati adegan film karena sudah tahu apa yang akan terjadi (tapi bukan adegan dewasa lho) Anda termasuk orang yang cenderung terburu-buru. Tidak bisa menikmati hidup dan selalu merasa dikejar waktu.
Cukup sekian, selamat pagi dan belajarlah selalu dimanapun, kapanpun, dari apapun dan jangan mengedepankan penilaian Anda sebelum jelas apa yang Anda lihat.
Wassalamualaikum.
Tulungagung, 07. 34, 16 Mei 2015
Murah dan Mahal
Assalamualaikum dan selamat beraktifitas bagi yang lagi sibuk dan selamat membaca buat yang nggak terlalu sibuk.
Sekarang saya mau menyalurkan aspirasi saya lagi untuk rakyat yang belum sepenuhnya bisa dimasukkan dalam anggaran pendapatan negara. He he. Bicara ngawur biar nggal tidur tapi itu namnya ngelantur. Ok, serius! Saya mau menyalurkan pendapat saya, lagi. Tentang satu hal, sesuatu yang penting.
Jika saya bertanya, apakah sesuatu yang paling penting di semesta raya ini? Secara umum, bukan secara pribdai Anda. Saya yakin Anda akan menjawab, Tuhan. Ya, kenapa? Karena memang Dialah satu-satunya yang sejati. Yang lainnya hanyalah sesuatu yang kemudian ada dan ‘dianggap’ penting.
Mari bicara soal kendaraan. Apa kendaraan paling penting bagi Anda? Tentunya yang masih bisa berjalan mulus, tidak rewel dan yang irit bahan bakar. Tapi coba kita teliti. Jika Anda disuruh memilih antara motor asal jalan dengan moge alias motor gede, mana yang Anda pilih? Moge, bukan? Kenapa? Karena kita memang lebih mementingkan penampilan daripada tujuan utama kita membeli motor. Lebih sangar dan lebih gimana gitu kalau kita bisa punya moge terparkir di halaman rumah kita. Dan, itulah saya dan sebagian dari Anda.
Lalu mari kita beranjak ke pendamping. He he. Pasti semangat nih kalau bicara soal, pacar, kekasih, cinta dan asmara. Saya lempar lagi satu pertanyaan, jika Anda disuruh memilih antara wanita yang taat agama dan wanita yang cantik wajahnya tapi kurang taat agama untuk dijadikan pacar, mana yang Anda pilih? Saya kira Anda akan menjawab, wanita cantik yang kurang taat pada agama. Kenapa? Karena kita menjadikannya sebagai pacar. Masih pacar yang artinya nanti masih bisa dibina untuk menjadi sholehah. Itu kata nafsu Anda. Kenapa saya bilang begitu? Karena saya dan sebagian dari Anda lagi-lagi lupa apa yang penting. Kita hidup bukan untuk pacaran tapi untuk menikah. Lebih memilih pacaran seumur hidup Anda dengan segala keindahan pacaran, romansanya dan jalan ceritanya yang berliku-liku ataukah memilih menikah dengan satu orang sampai mati? Lalu kenapa kita memilih pacaran dahulu daripada langsung menikah? Ingin mencoba apakah dia benar-benar tepat untuk Anda? Memangnya dia itu barang promosi yang bisa dicoba sesuka hati lalu dibuang jika nggak cocok? Seberapa berharga seseorang jika hanya untuk mencari tahu cocok atau tidak? Ingat! Yang Anda pertaruhkan disini adalah harga diri Anda. Semakin banyak Anda punya mantan, maka sebenarnya semakin turun harga diri Anda. Kenapa? Karena Anda dihargai sama dengan barang promosi yang bisa dicoba oleh customer. Dan jika Anda merasa jika Anda adalah barang mahal yang hanya ada satu di dunia, merasa bahwa Anda eksklusif, hanya dimiliki orang-orang tertentu, Anda tahu harus memilih pacaran atau langsung menikah.
Terakhir mari kita bicara tentang waktu. Jika Anda punya waktu luang di malam hari dan belum mengantuk, mana yang Anda pilih, menghibur diri dengan melihat film, telepon seseorang, bermain game atau mencari ilmu? Jika Anda memilih menghibur diri tanpa mencoba mencari ilmu dari hiburan yang Anda nikmati, maka Anda rugi. Jika kita bisa melihat lebih jeli, kita akan selalu melihat dalam film kata-kata yang berisi motivasi, kata-kata yang mengandung makna yang dalam dan lainnya. Jangan abaikan itu. Karena kita tidak pernah tahu darimana kita bisa mengambil pelajaran. Tapi satu hal untuk diketahui bahwa orang yang cerdik bisa belajar dari segala hal.
Sekian, wassalam.
Tulungagung, 08.18, 27 April 2015
Belajar Lagi
“Kenapa ya semua kok terasa begitu berat, Kang? Semua ini begitu terasa argh! Saya seakan sudah nggak kuat lagi, Kang dengan semua ini” keluh Marno.
Kang Item mengangguk pelan penuh wibawa. Dia paham apa yang dirasakan Marno pasti serign dirasakan oleh sebagian besar dari kita. Ketika semua masalah terasa menumpuk dan begitu berat untuk menerima semua kenyataan. Saat dimana kita mungkin terbiasa lari menuju hal-hal yang malah membuat semuanya lebih buruk.
“Sampeyan pengen semua masalah sampeyan selesai?” tanya Kang Item tenang. Marno langsung mengangguk penuh harap. Dia benar-benar seperti menemui jalan buntu. Tak tahu harus kemana dan harus bagaimana.
“Sampeyan percaya takdir?”
“Loh? Ya percaya tho, Kang!” jawab Marno spontan.
“Apa yang sudah kita alami, semua itu ....” Kang Item memotong perkataannya dengan sengaja.
“Itu ya takdir yang sengaja diberitahukan pada kita” sambung Marno.
“Agar ....”
“Agar kita bisa belajar dari pengalaman”
“Sampeyan percaya al-Qur’an?”
“Lah, yo percaya tho, Kang” lagi-lagi Marno menjawab dengan semangat.
“Sampeyan percaya ayat yang mengatakan bahwa Allah tidak membebani hamba-Nya kecuali ....”
“Semampunya. Ya saya percaya tho, Kang”
“Percaya saja atau percaya banget? He he” kelakar Kang Item.
“Ya percaya bangetlah”
“Lha kok masih mengeluh? Bukannya adalah takdir bahwa sampeyan akan menghadapi masalah seberat ini? Bukankah masalah yang sampeyan hadapi pasti tidak melebih kemampuan sampeyan?”
Marno diam. Dia kena pukulan telak. “Iyo yo, Kang. Wah, saya kok malah nggak kepikiran ke situ?”
“He he. Ya namanya juga manusia, No. Pasti salah dan lupa. Kita itu bisa diibaratkan prajurit rendahan yang disuruh Sang Raja untuk melawan singa. Sang Raja pastinya sudah tahu seberapa besar kemampuan kita. Jadi singa yang akan dijadikan lawan kita juga sudah diukur oleh Sang Raja. Nah, tetapi ada kalanya, kita itu merasa kecil hati untuk melawan singa sedang Sang Raja tetap memaksa. Akhirnya di arena kita dihajar habis-habisan sama singa itu. Ketika tinggal selangkah lagi singa akan membunuh kita, maka kemudian crasss! Sang Raja sendiri yang akan membunuhnya untuk kita. Asalkan ....”
“Asalkan kita tetap percaya pada Sang Raja Diraja, begitu kan, Kang?”
“Mantep! Asalkan kita percaya bahwa Sang Raja akan selalu mengukur kemampuan kita dan akan datang untuk menolong kita”
Tulungagung, 09.10, 25 April 2015
Musibah Itu ...
Pagi itu Kang Ijo sedang duduk termenung. Terlihat wajahnya sayu memikirkan sesuatu. Kang Item jadi nggak tega melihat sahabatnya itu duduk sendirian sambil menghadap ke jalanan.
“Assalamualaikum” sapa Kang Item.
“Waalaikumussalam, Kang” jawab Kang Ijo sambil menjabat tangan Kang Item. “Kopi, Kang”, Kang Ijo menawarkan.
“Ya. Kamu kok kelihatannya sedih, Jo”
“Ah, ini lho, Kang. Saya lagi mikir”
“Lha iya, manusia itu mesti mikir, kalau nggak kan nggak ada bedanya dengan hewan? Ya nggak?”
“He he, iya, Kang”
“Lha terus kamu lagi mikir apa?”
“Ini, Kang. Sebenarnya apa sih tugas kita di dunia ini, Kang?”
“Lho? Bukannya di Al Qur’an sudah ada?”
“Yang mana?”
“Hemmm, makanya baca al Qur’an, Jo. Di Al Qur’an sudah disebutkan kalau kita diciptakan ...”
“Kalau yang itu aku juga tahu, Kang” potong Kang Ijo.
“Jo, memotong perkataan seseorang tanpa permisi itu nggak sopan. Apalagi posisi kamu sebagai penanya. Tahu?”
“Iya, Kang. Maaf”
“Ya, nggak apa-apa. Jadi kamu sudah tahu kalau penciptaan kita hanya untuk beribadah? Nah, terus apa yang kamu pikirin sampe kopinya dingin begini?” tanya Kang Item sambil menyeruput kopi.
“ Begini, Kang. Kok saya nggak pernah bisa merasakan kalau tugas saya itu beribadah? Saya nggak bisa merasa kalau saya ini diberi tanggung jawab sebagai ‘abid?”
“Atau lebih tepatnya, kamu nggak bisa merasakan kalau ibadah itu adalah tugas kamu?”
“Cocok!”
“Begini, Jo. Misalnya kalau kamu disuruh Kyai untuk membuat kopi. Apa yang bakal kamu lakukan?”
“Ya saya segera membuat kopi tho, Kang?”
“Nah, kira-kira apa bedanya sama tugas kita sebagai makhluk yang disuruh Sang Khalik untuk beribadah?”
“Eee, ...” Kang Ijo menunduk. Dia sedang berpikir lebih dalam.
“Mungkin karena yang menyuruh itu Kyai saya?”
“Yang lainnya?”
“Eee, ... Karena saya mengakui kalau beliau adalah Kyai yang harus saya hormati?”
“Nah, bagaimana kamu kok bisa sampai mengakui beliau sebagai seseorang yang kamu hormati?”
“Ya karena saya memang berniat mengabdi kepada beliau?”
“Atau lebih pasnya karena kamu sudah mengenal beliau. Ya, kan?”
Kang Ijo mengangguk mengiyakan.
“Coba kita ambil contoh lain lagi. Di tengah jalan kamu bertemu seseorang. Tiba-tiba kamu disuruh untuk membuatkannya kopi. Kamu mau nggak?”
“Ya enggaklah! Lha wong nggak kenal kok? Enak aja main suruh-suruh?! Emangnya saya siapanya dia?”
“ Nah itu, Jo!”
“Itu apanya?”
“Karena kamu nggak kenal. Gimana kamu mau melaksanakan tugas dari seseorang yang kamu sendiri nggak kenal? Bagaimana kamau mau melaksankan ibadah sedangkan kepada Yang Memerintah saja kamu nggak kenal?”
Kang Ijo tertunduk lesu. Kata-kata itu begitu merasuk. Begitu dalam terasa dalam hatinya.
“Lalu aku harus bagaimana, Kang?”
“Kamu harus belajar mengenal dia sambil terus melaksanakan tugasnya meski kamu belum belum kenal”
“Caranya bagaimana?”
“Menurutmu bagaimana cara kita berkenalan dengan Dzat yang tak sama dengan makhluk-Nya?”
“Selalu menyebut asma-Nya?”
“Betul. Itulah mengapa kita harus lama-lama wiridan sehabis sholat maupun di luar sholat”
“Biar semakin kenal?”
“Benar, Jo. Maka itulah salah satu arti dari man arafa nafsahu arafa robbahu, siapa yang kenal dirinya maka kenal Tuhannya”
“Mantep, Kang. Terima kasih. Monggo kopinya disruput lagi”
“Halah, sudah dingin, Jo”
“Lah? Perasaan baru saya buat tadi kok, Kang?”
“Halah, mboh!”
Tulungagung, 06.53, 07 April 2015
Musik dan Kepuasan Hati
Tampak seorang anak muda naik ke atas panggung. Setelah basa basi dan perkenalan, si anak muda mulai bernyanyi. Bu Ida begitu fokus mendengarkan suara lembut si anak muda di televisi sampai tidak mendengar anaknya, Komar salam dan masuk kamar. Keluar dari kamarnya, Komar sudah berganti kaos oblong. Ia lalu duduk di samping ibunya yang masih konsen lihat salah satu acara pencarian bakat.
“Ah, suaranya fals begitu masih maksa ikut” celetuk Komar.
“Heh! Setidaknya dia nggak kayak kamu yang setiap malem nggenjreng di perempatan nyanyi nggak jelas!” sanggah ibunya.
“Biarin! Kan Komar puas, Mak. Di sininya itu enak” kata si Komar sambil menunjuk dadanya.
“Halah! Enaknya di kamu, tapi nggak enaknya satu RT kena” jawab Bu Ida ketus.
“Lah? Daripada mereka yang di tipi itu. Nyanyinya cuma buat uang, terkenal, kaya. Lebih mending saya kan, Mak. Meskipun bikin ribut sekampung tapi murni untuk kepuasan hati”
“Tahu apa anak kecil soal kepuasan hati?!” kata Bu Ida sambil mencubit gemas anaknya yang sebentar lagi menghadapi ujian.
Tulungagung, 22.54, 22 April 2015
Pasrah
Mulyadi masih menunggu. Matanya tak berkedip demi mendengar sepatah dua patah kata dari Kang Item. Konsultasi, itu yang sedang dilakukannya.
Fuuuuh! Kang Item mengepulkan asap rokok perlahan. Kang Item bukannya nggak mau menjawab. Dia bisa langsung menjawab, tapi dia ingin jawabannya sebisa mungkin membuat Mul paham.
“Be ....”
“Assalamualaikum!”
Belum sempat Kang Item menjawab, Kang Ijo menyapa.
“Waalaikumussalam” jawab Kang Item dan Mul.
“Wah, kopi Kang?” tangan Kang Ijo langsung menyambar cangkir putih dan menyeruputnya. “Mantep, Kang”
“Ya manteplah, lha wong gratis” ujar Kang Item disambut cengenges Kang Ijo.
“Kang ....” kata Mul lirih sambil menengok ke arah Kang Item.
“Oh, ya. Jadi begini, Mul. Memang ....”
“Ngomongin apa, Kang?”
“Haish! Jangan menyela orang yang sedang berbicara, Jo! Nggak sopan”
Kang Ijo langsung menutup mulutnya dengan tangan.
“Begini, Mul. Memang semua sudah digariskan. Tapi coba kita lihat di Al Qur’an. Ternyata ada lho perintah untuk makan dan minum. Nah?”
“Maksudnya, Kang?” tanya Mula masih belum paham.
“Kamu kan tadi nanyanya begini, kenapa kok saya merasa nggak punya tujuan hidup? Seakan semua mengalir saja. Ketika saya jawab bahwa kamu harus bermimpi, mempunyai cita-cita, mempunyai rencana masa depan dan sebagainya. Kamu menjawab bahwa semuanya pasti kalah dengan kehendak Allah. Nah, kalau di Al Qur’an saja Allah memerintahkan kita untuk sekedar makan, maka bagaimana dengan yang lainnya? Yang lebih besar urusannya?”
Kang Ijo mengacungkan tangan. “Ya, Jo. Mau ngomong apa?”
“Kalau boleh saya jelaskan lagi, ternyata untuk urusan remeh sekelas makan minum saja kita diperintahkan, apalagi untuk urusan mencari kerja, mempunyai mimpi, mempunyai rencana, mempunyai istri mempunyai rumah dan segala hal yang besar porsinya. Begitu ya, Kang?”
Kang Item mengangguk setuju dengan kesimpulan Kang Ijo.
“Bagaimana, Mul?”
Mulyadi mengangguk perlahan. Lalu mesem sendiri. Kang Ijo yang heran bertanya, “Kenapa, Mul?”
“Enggak, Kang. Ternyata saya sudah salah besar selama ini. Saya masih kurang jeli untuk bisa melihat masalah saya dari sudut lain”
“Maksudnya?” Kang Ijo nggak tahu maksud perkataan Mul.
“Saya kepikiran begini tadi. Kalau memang menurut saya hidup selalu kalah dengan kehendak Allah, kenapa saya nggak memasrahkan makan minum saya kepada-Nya? Bukannya itu maksud dari Kang Item tadi?” Mulyadi menoleh pada Kang Item.
“Wah, saya malah nggak kepikiran kesitu, Mul” Mulyadi dan Kang Ijo terkejut. Lalu disambut tawa ketiganya.
Tulungagung, 06.35, 11 April 2015
Al Qur'an
Wednesday, 22 April 2015
Bisa nggak Tuhan bunuh diri?
Dingin-dingin enaknya ngopi sambil dengerin lagu. Maklum, masih notebook baru. He he.
Pernah dengar kisah Nabi Idris yang ditanya iblis tentang seberapa besar kekuasan-Nya? Dalam kitab Ummul Barahain, disebutkan kisahnya. Meski hanya sekelumit, ternyata bisa menjadi jawaban yang relevan untuk pertanyaan teman-teman kita yang sekarang mulai merambah masalah yang paling sensitif, tauhid.
Nabi Idris, Nabi pertama yang membuat baju, ketika itu sedang menjahit bajunya. Dikisahkan bahwa setiap kali beliau memasukkan dan mengeluarkan jarum, beliau selalu mengucapkan Alhamdulillah dan Subhanallah. Lalu datanglah iblis dengan membawa kerak telur di tangannya.
“Hai, Idris! Apakah Tuhanmu mampu memasukkan dunia ke dalam kerak telur ini?”
“Bisa! Bahkan Allah bisa memasukkan dunia ke dalam jarum ini” seraya Nabi Idris menusukkan jarum ke salah satu mata iblis.
Diriwayatkan oleh Al-Ustadz Abu Ishaq, bahwasannya Asy-Syaikh Abul Hasan Al-Asy’ari mengambil jawaban Nabi Idris sebagai jawaban atas pelbagai pertanyaan tentang konsep kekuasaan Tuhan atau Qudrat-Irodat.
Saya biasa melihat postingan di grup-grup facebook, entah itu grup kepenulisan ataupun grup dagelan, selalu dan pasti ada salah satu anggota yang pertanyaannya kebanyakan sama. Kurang lebih yang seperti ini :
“Apakah Tuhan mampu menciptakan batu yang berat yang bahkan Tuhan pun tak bisa mengangkatnya?”
Atau
“ Apakah Tuhan mampu menciptakan Tuhan yang lainnya?”
Nah, kalau dari saya malah pengen bertanya seperti ini :
“Apakah Tuhan mampu bunuh diri?”
He he. Eits! Jangan emosi dulu ya? Sebenernya memang pertanyaan seperti itu muncul di saat yang nggak terduga. Asal ada gurunya, saya yakin kita boleh bertanya seperti itu. Kenapa? Karena sebenarnya kita perlu untuk bisa mengenal lebih jauh siapa Dia Yang Maha Kuasa. Bagaimana bisa kenal kalau nggak tahu persis sifatnya seperti apa? Okelah kalau sudah banyak yang bilang kalau Tuhan itu begini begitu. Tapi coba ditelaah lagi, seberapa paham kalian dengan konsep Ke-Maha Besar-an Tuhan? Seberapa terasa di benak dan pikiran kalian? Pasti hanya samar-samar. Saya yakin itu.
So, bagaimana cara menjawab orang-orang yang bertanya seperti itu? Apakah mau ditusuk pakai jarum juga? Tentunya tidak. Terlalu sadis. He he. Biarkan orang berpikir dengan caranya, karena kita semua memang tak sama.
Saya akan mencoba menjawabnya dengan logika saja.
Dasar pertama, Tuhan Maha Kuasa atas segalanya.
Dasar kedua, Tuhan tak mungkin tidak Maha Kuasa atas segala ciptaannya.
Ok, kita analisi kalimat di atas. Yang pertama :
“Apakah Tuhan mampu menciptakan batu yang berat yang bahkan Tuhan pun tak bisa mengangkatnya?”
Kita pecah jadi dua menjadi :
“Apakah Tuhan mampu menciptakan batu yang berat ... >>>> Tuhan Maha Kuasa, pasti mampu menciptakan batu seberat apapun itu. Masuk akal? Ok, lanjut.
“... yang bahkan Tuhan pun tak bisa mengangkatnya?” >>>> Tuhan yang tidak mampu/tidak Maha Kuasa bukanlah Tuhan. Setuju? Nah, sekarang coba kalian simpulkan sendiri. Yang jelas, dalam kitab yang sama dari yang saya sebutkan di atas, dijelaskan bahwa sifat Qudrat Allah/Ke-Maha Kuasa-an Tuhan tak berhubungan dengan sesuatu yang mustahil, sedangkan mustahil adalah sesuatu yang tidak masuk akal.
Wassalamualaikum.
Tulungagung, 22.54, 07 April 2015
Monday, 14 April 2014
Haruskah . . .?
Sore jam 04.00 aku pulang dari sekolah. Hari ini terlalu lama motivasi-motivasi dan trik jitu mengerjakan UN diberikan. Semakin dekatnya hari H, membuatku semakin bimbang tak karuan. Bukan soal lulus atau tidak. Itu nomer dua bagiku. Yang aku bimbangkan adalah soal trik dalam UN. Kalian pasti tahu apa yang ku bicarakan. Jalan belakang yang selalu muncul seiring diselenggarakannya Ujian Nasional ini.
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumussalam. Kok baru pulang?", tanya ibuku. "Iya, Bu. Tadi baru diberi motivasi buanyak banget"
"Owh. Lha kamu sendiri yakin nggak?"
"Yakinlah, Bu! Nggak lulus kan bukan akhir dunia?", kataku sambil masuk kamar. Aku berbohong lagi. Ku merebahkan tubuhku. Pusingnya kepalaku memikirkan semua ini. Ujian, belajar, jalan belakang, kejujuran, ilmu! Arrgh! Semua berputar-putar di kepalaku. Ku pejamkan mata berharap segera tidur agar semua masalahku segera lenyap!
"Le! Bangun! Jam Lima itu lho! Kok masih tidur saja! Cepetan mandi dan shalat sana!", aku masih samar-samar saat ibuku teriak-teriak membangunkanku. Aku berjalan gontai menyambar handuk dan pergi mandi. "Aaaaahm".
"Amin", aku berdoa agar ujianku nanti lancar. Saat itu juga kebimbanganku muncul kembali. Antara sadar dan tidak, aku menuju meja makan. Pikiranku masih melayang. Memikirkan bagaiman ujian itu nanti ku lewati. Apa aku harus menjadi penolong ataukah penyendiri yang pasti dibenci orang lain.
"Soal UN mulai didistribusikan ke seluruh Nusantara hari ini. Rencananya . . .", siaran TV mengabarkan perkembangan pelaksanaan UN yang sudah tak lama lagi. "Kamu gimana persiapannya?", tanya ayahku. Aku masih linglung. "Le?"
"He? Eh, ya sudah siap, Pak. Tadi siang sudah diberi motivasi banyak banget. Pokoknya harus yakin UN lulus semuanya"
"Tapi apa ya pasti semua temen-temen kamu itu bisa semua? Soal UN kan bukan soal biasa?", gantian ibuku yang bertanya.
"Sebenernya, kata motivator tadi siang, soal UN itu justru lebih mudah lho, Bu. Daripada soal TO yang begh! Bikin pusing setengah mati!"
"Emm! Pantesan kamu dapat nilai jelek. Berapa kemarin?", ayahku menoleh padaku. Aku menjawab sambil menunduk,"14,00".
"Lha temen-temen kamu rata-rata juga segitu?"
"Iya, Bu! Kata Pak Guru, soal TO memang sengaja dibuat sulit. Biar kami nggak kaget mengerjakan soal UN nanti"
"Lha anaknya Pak Darmawan berapa nilainya?"
"Bagus dia, Pak. Dia peringkat kedua. Nggak tahu nilainya berapa! Soalnya dia memang pintar"
Ting Ting Ting! HPku berbunyi. SMS dari Riki. Dia pengen ngajak keluar. Langsung saja ku iyakan.
"Pak, nanti habis maghrib aku mau keluar sama Riki"
"Kemana? Belajar bersama?"
"Enggak, Pak. Cuman jalan-jalan saja. He he"
"Lho kenapa nggak belajar? UN kan makin dekat?"
"Enggaklah, Pak. Pengen istirahat sejenak. Capek, Pak, belajar terus. Lama-lama bisa error, Pak!", kataku sambil cengengesan.
"Ya sudah. Tapi jangan pulang terlalu malam"
"Ya, Pak. Terima kasih".
Adzan maghrib mulai berkumandang. Ayah langsung ke pancuran samping rumah. Mengambil air wudhu untuk kemudian pergi ke musholla. Sedangkan aku sholat berjma'ah bersama kakak dan ibuku di rumah. Rutinitas yang dibiasakan ayahku sejak kecil.
"Assalamu'alaikum!", suara Riki di depan rumah. "Wa'alaikumussalam!". Aku yang memang sedang menunggunya langsung membuka pintu. "Bu, aku keluar dulu. Assalamu'alaikum!"
Ku ambil sepeda di samping rumahku dan bergegas dengan Riki ke lapangan. Malam-malam ke lapangan? Bukan. Kami biasa nongkrong di angkring dekat lapangan. Apalagi di depannya ada warung kecil. Jadi pas banget. Sambil ngemil, kita biasanya ngobrol. Banyak hal yang kita bahas. Biasanya kita bertiga, aku, Riki dan Kamal. Tapi kata Riki, "Kamal lagi belajar kelompok sama Budi, Arman dan Dwi"
"Lagi . . . Itu ya?"
"Ya, gitu deh! Mereka kan peringkat teratas di kelas kita. Pastinya mereka yang dijadikan tim sukses buat UN nanti"
"Hemph", aku menghela napas. Sesak rasanya dada ini jika kembali memikirkan kebimbangan dan 'jalan belakang' itu lagi. "Sebenernya, apa sih fungsi UN itu jika kita harus melakukan drama seperti ini?", kata Riki pelan. Dia memandang langit malam sambil menghela napasnya. Sepertinya dia merasakan apa yang ku rasakan.
"Entahlah, Rik. Semua ini selalu memusingkanku sejak beberapa hari kemarin. Terutama saat pembagian jatah per ruang saat itu"
"Apakah kita bener-bener ujian ya? Kok kayaknya semua hanya sandiwara?"
"Memang. Sandiwara yang paling rapi. Sandiwara dengan jumlah pemeran terbanyak. Sandiwara terbesar abad ini. He he", kataku sinis. Aku sebenarnya menyayangkan semua ini. Tapi aku sendiri bakal jadi salah satu pemerannya beberapa hari lagi.
"Terus, haruskah kita ikut sandiwara ini, Di?", Riki menatapku.
Aku menunduk. Jauh dalam hatiku aku mengutuk ujian ini. Bener-bener mengutuk! Hanya karena ujian semacam ini, kami pelajar harus menghianati ilmu yang kami pelajari. Hanya gara-gara ujian semacam ini, kami harus tertekan sepanjang waktu. Terombang-ambing dalam perasaan yang tak menentu. Antara yakin dengan kemampuan atau mencari 'alternatif' lain. Ujian gila! Bahkan harus ada satu keluarga yang menanggung malu karena anaknya bunuh diri karena tidak lulus. Bener-bener . . .! Argh!
"Kalo menurutmu?"
Ganti dia yang menghela napasnya. "Sebenernya semua sudah jelas, Di. Ini hanya ujian kelulusan. Sama seperti ujian semester dua. Hanya saja skalanya lebih besar dan rasa malunya lebih besar. Kita akan malu kalau tidak bisa naik kelas, tapi lebih malu lagi kalau tidak lulus". Sejenak dia diam. "Memang, sepandai apapun seseorang pasti akan terlihat kebodohannya suatu saat. Aku ragu, jika orang-orang yang jadi pengusaha, pejabat dan sebagainya adalah lulusan terbaik dari SMAnya. Bahkan lulusan SD pun bisa menjalani hidup dengan sukses. Lalu kenapa kita harus menggantungkan semua kesuksesan kita di ujian ini? Kenapa?"
"Pertanyaanya bukan kenapa, Rik. Tapi haruskah. Haruskah kita menggantungkan semua angan dan cita-cita kita di ujian ini?"
"Tidak!"
"Hei!", kami kaget. Kamal tiba-tiba muncul di belakang angkring. "Loh? Kamu nggak jadi . . .", tanya Riki.
"Ya tadi aku cuma bentar di sana! Aku harus pergi dari sana, kawan!", dia duduk di sampingku. "Aku harus mengambil keputusan yang paling sulit. Aku harus berani jujur. Berani menghadapi semua ini dengan keyakinan pada kemampuanku sendiri. Jika bukan kita yang jujur, lalu siapa lagi?"
"Tapi kamu tahu kan akibatnya?!", Riki sedikit menekan perkataannya. Kamal mengangguk.
"Semua sudah ku pikirkan baik-baik. Dan akhrinya aku harus menjadi pemeran antagonis dalam sandiwara nanti"
"Gila kamu, Mal! Kamu tahu kan, kalo kamu keluar dari tim sukses, maka semakin banyak temen kita yang akan ragu, bahkan mungkin lebih tertekan. Karena kamu yang jadi peringkat teratas malah nggak membantu mereka! Dan . . ."
"Wow! Wow! Easy, Bro! Justru tadi waktu di sana, aku sudah mengutarakan tentang penolakanku 'membantu' mereka", katanya tenang. "Dan mereka?", aku penasaran. Setidaknya dia pasti sudah dimusuhi Budi, Arman dan Dwi.
"Yah, seperti yang bisa kau bayangkan. Wajah mereka langsung mengeras. Dan saat itu pula mereka langsung menceramahiku dengan ditambahi sumpah serapah! Fiuh! Pokoknya seru!"
"Dan kamu, pergi begitu saja?"
"Nggaklah, Rik. Nggak sopan itu namanya. Ya, aku cuma menjelaskan alasanku. Dan, mau tak mau mereka harus menerima"
"Ada yang ngancam kamu nggak?", tanyaku penuh selidik. Pasti ada.
"Ada sih. Katanya aku bakal dilaporin ke dewan guru gitu. Tapi ya terserahlah. Ini ujian, bukan sandiwara"
"Kamu . . Ah, gila kamu, ya?", kata Riki tak percaya. "Tapi kamu nggak bilang sama orang tua kamu kan?"
"Mereka sudah menduga semua ini. Tentang tim sukses dan sebagainya. Malah mereka yang pertama kali bertanya. Dan aku harus menjawab apa adanya"
"Jadi karena ortumu akhirnya kamu mengambil keputusan ini?"
"Iya, Di. Ortuku bilang, ujian sesungguhnya bukan apa yang dihasilkan, tapi prosesnya. Bukan tentang lulusnya, tapi soal bagaiman kamu lulus".
"Hemph! Kamu bener-bener berani, Mal. Aku mungkin . . ."
"Hei!", Kamal menatapku tajam. "Kamu nggak akan ikut, 'itu' kan?"
Aku menunduk. "Rik?", dia berganti menatap Riki. "Jujur aku masih ragu dengan kemampuanku, Mal. Kamu juga kan tahu berapa nilaiku dan nilai Ardi kemarin. Meskipun soalnya memang dipersulit, tapi kemampuan kami jauh darimu, Mal. Jadi mungkin . . .", Riki tidak meneruskan perkataannya. "Gila! Bener-bener gila!", kata Kamal sedikit berteriak. "Kenapa sih?! Kenapa semua temen-temenku harus jadi pesimis begini?! Ayolah, kawan! Ini, ini tentang bagaimana kalian mengamalkan apa yang sudah diajarkan. Argh! Kawan! Ingat apa yang Pak Hardi katakan kemaren! Ingatkan, Di? Rik?"
Kami mengangguk. "Tapi, Mal. Ini nggak semudah apa yang . . . Ah!", kata Riki. Dia benar-benar sudah putus asa. "Tadinya aku dan Riki sudah membahas ini. Dan, . . .", kataku.
"Dan?"
"Kami belum tahu. Kami masih bimbang. Benar apa yang kau katakan. Ini tentang jujur. Tentang apa yang Pak Hardi katakan. Tapi apa kau mengerti posisi kami? Kami hanya punya kemampuan pas-pasan. Kami mungkin hanya bisa mengerjakan soal nggak lebih dari 30%!"
"Aku memang nggak tahu bagaimana rasanya berada di posisimu, Rik. Tapi, apakah kamu harus membohongi orang tuamu? Gurumu? Hah?! Di?", Kamal menoleh ke arahku. Aku menghela napas. "Ini bener-bener berat, Mal. Karena itulah tadi Riki bilang kamu itu gila. Kalau kamu bakal mendapatkan musuh yang lebih banyak, bahkan mungkin ijazahmu akan dipersulit karena keputusanmu itu, tapi setidaknya kamu sudah selangkah lebih dari kami. Kamu sudah lebih siap dari kami. Sedang kami? Kami kemungkina harus ikut paket agar mendapatkan ijazah", aku menatap sendu langit malam.
"Terus kenapa? Kenapa memangnya kalo paket? Malu? Malu dikatakan nggak lulus?"
Aku menunduk lagi. Ku lihat Riki juga. Meskipun lulus adalah nomer dua, tapi aku masih belum siap untuk dikatakan tidak lulus Ujian Nasional. Memang benar aku mengutuknya. Aku mengutuknya karena ini. Karena cara berpikir kebanyakan orang yang menganggap tidak lulus UN adalah aib. Bukan hanya aib satu orang, tapi aib satu keluarga.
"Oke! Apa kalian punya cita-cita?", Kamal mencoba mengalihkan pembicaraan kayaknya. Kami mengangguk. "Mau kalian meraih cita dengan beralaskan jurang hitam? Maukah kalian menjadi pengusaha hebat dengan catatan hitam yang pasti akan kalian ingat sampai tua nanti?", katanya bersemangat.
"Tapi hanya sekali ini kan, Mal?", jawab Riki. "Bagi kalian mungkin hanya sekali ini. Bagi yang lain?". Riki diam. Kamal diam. Begitu juga aku.
"Mungkin inilah awal dari kematian kejujuran. Dari ranah pendidikan pun, ketidakjujuran sudah ditanamkan, apalagi di lingkup lainnya", suaraku memecah kesunyian.
"Dan, pasti banyak sekali orang yang mulai tidak menghargai kejujuran. Yang penting mereka selamat dan mendapatkan apa yang diinginkannya", sambung Riki.
"Hemph!", Kamal menghela napas. "Aku mungkin nggak tahu bagaimana berada di posisi seperti kalian. Alhamdulillah, aku diberi kemudahan dalam pemahaman. Aku tidak tahu jika aku harus mengerjakan sesuatu yang aku sendiri tidak begitu paham. Mungkin aku akan seperti kalian. Tapi, Kawan! Percayalah! Aku tidak ingin kalian putus asa. Bukan aku saja. Orang tua kalian pun tentu tidak ingin kalian putus asa. Aku yakin, mereka ingin kalian sukses dengan cara kalian sendiri. Bukan dengan cara 'alternatif' itu"
"Ya, kalau ortuku dan ortunya Ardi sih, aku yakin begitu. Lha ortu temen kita lainnya? Aku nggak begitu yakin", kata Riki.
"Tapi itu semua kembali kepada kalian masing-masing. Ortu kita hanya bisa mendukung karena kitalah yang menjalani. Pokoknya . . .", Kamal memegang pundak kami. "Kalian harus jujur pada diri sendiri dengan cara yakin dengan kemampuan kalian sendiri! Aku mungkin hanya bisa memberi saran. Tapi yakinlah, setiap perbuatan baik ada balasannya. Begitu pun perbuatan buruk. Kalaupun kalian nanti tidak lulus, aku akan menenmani kalian sampai kalian sendiri bosan ditemani olehku. He he", katanya mantap.
"Yup! Makasih, Mal! Mungkin ini yang kami butuhkan. Semangat dari kawan sendiri". Riki ganti memegang pundak Kamal. "Kita pasti berusaha semaksimal mungkin. Hasilnya, terserah! Yang kita lakukanlah yang penting! Ya kan, Di?"
"Ya!", aku mengangguk mantap. "Terima kasih banyak, Mal! Aku akan berusaha menjadi baik dengan cara yang baik!"
"Kita,", Kamal menatap aku dan Riki bergantian. "Adalah kawan. Yang saling tolong menolong dalam kebaikan, bukan kejelekan"
"Dan kita adalah pelajar yang belajar mengamalkan apa yang kita pelajari", sambung Riki.
"Dan kita adalah orang bodoh yang berusaha pintar dengan cara yang baik", sambungku.
"Kita? Loe kale! Gue enggak tuh!", sahut Riki yang disambut tawa kami semua. UN bukanlah tempat menggantungkan cita-cita dan impianku. Tapi adalah ujian yang sebenarnya sebagai pijakanku menggapai cita-cita dan impianku. Dengan cara yang baik tentunya.
Thursday, 16 May 2013
Kode Keamanan Nokia
Semoga sehat selalu n always smile!
Pada postingan kali ini, ane mau ngomongin soal HP. Siapa sih yang nggak punya Hp di jaman teknologi seperti ini? Bahkan, anak SD pun sudah punya Blakcberry! Wahahahaha!
Dan, dari sekian merk HP ternama di dunia, salah satunya adalah Nokia. Yang mana ane juga demen banget ama merk satu ini. Selain kualitas, Nokia selalu lebih unggul dari merk HP lainnya. Itu menurut ane. Kemaren, nggak tahu kapan tepatnya, ane beli seri Nokia 112. Termasuk keluaran Desember 2012, jadi masih kinyis-kinyis. He he.
Karena ane termasuk orang yang nggak bisa diem, ane utak-atik dah tuh HP baru ane. Sampai akhirnya karena satu dan beberapa hal, ane salah masukin kunci keamanan tombol dan tertulis gede banget, “KODE SALAH”. Aaaaaaaaargh!
Eh, iya. Sebelumnya ane mau berbagi tips mencari HP yang cocok dengan keinginan kita. Karena, ane kira banyak agan-aganwati yang kadang bingung milih HP. Oke, let’s try this!
Pertama, tentukan fitur apa saja yang pengen agan miliki di HP agan. Mau kamera berapa pixel, kapasitas memori berapa giga atau jaringan 3g tersedia atau tidak.
Setelah itu, bentuk HP yang bagaimana yang agan pengen. Sliding, qwerty keyboard atau biasa aja.
Step selanjutnya, tinggal cari-cari di Koran atau majalah HP atau juga bisa lewat simbah Google.
Setelah dapet, langsung cari review dari para pemakai HP tipe kesukaan agan. Kalo ane, biasanya lewat situs www.gsmarena.com. Biasanya ka nada comment-commentnya tuh di situ. Itu yang perlu kita translate dan pahami secara seksama dan dlam waktoe jang sejingkat-jingkatnya. Halah, malah jadi proklamasi nih?
Nah, kalo kebetulan tipe HP yang menurut agan sesuai dengan keinginan ada dua atau lebih, bisa agan bandingkan lewat www.situshp.com. Ini situs orang kito. Jadi mudah dipahami. Oh, iya. Sekalian di situ, agan bisa lihat harga HP agan dengan update terbaru. Tapi, ya ada yang update dari Papua, ada yang dari Aceh bahkan ada yang dari Blitar! He he, kota kebanggan ane!
Setelah semua langkah di atas selesai, selanjutnya tinggal naikin motor tetangga langsung geber ke pusat-pusat perbelanjaan di kota terdekat!
Oke, sekian postingan hari . . . .
Eh, lupa. Kemabali ke masalah awal tadi. Sebenarnya ane waktu itu cuma coba-coba. Kira-kira jika kode kunci keamanan HP Java itu kalo salah terus masih bisa masuk nggak yah? Dan ternyata, ERROR! Gawat! Langsung ane masuk jaringan nirkabel melalui N97 mini ane (HP Jadul ane). Dari situ, ane daftarin paket Internet AXIS yang Cuma Rp 1.000 bisa internetan dengan kuota 15 mb! Lumayan buat nyari informasi tentang bagaimana mengembalikan kode keamanan HP Java. Dari sekian banyak jawaban, ane dapat satu postingan blog yang menyatakan kalo HP Java tidak bisa menerima kesalahan kode keamanan lebih dari 5 atau 6 kali. Setelah kesalahan ketujuh, maka kode keamanan yang benar sekalipun akan dianggap salah! Lalu, gimana solusinya?
Ini ada beberapa versi.
Pertama, HP dimatikan selama 3 jam atau lebih dengan melepas Sim Card dan Kartu Memori. Lalu hidupkan dan tunggu sekitar 20 s/d 40 menit. Setelah itu, masukkan kode yang benar.
Kedua, melalui IMEI yang ada di belakang wadah baterei HP. Lalu masukkan kode berjumlah 15 digit tersebut ke www.unlockme.com. Lalu klik Get Code dan masukkan kode hasil tadi sebagai kode keamanan.
Ketiga, masukin ke rumah sakit alias servis!
Dari ketiganya, ane lebih memilih yang aman. NO 1 Pilihanku! Hahahaha!
Dan ternyata, it’s damn right! Ane lega sudah! Setidaknya ane bisa ngutak ngatik HP temen ane biar ERROR! Wuahahahaha!
Oh, ya! Ane dapat jalan pintas selain NO 1 Pilihanku! Karena pilihan NO 1 itu untuk Rencana Jangka Panjang (RJPa). Nah untuk yang Rencana Jangka Pendek (RJPe), agan-agan bisa membuka HP terkunci itu lewat telpon! Coba agan telpon HP agan yang terkunci tadi, lalu angkat dan masuk pilihan. Di situ kayaknya ada menu utama. Lalu agan masuk dan nonaktifkan kunci tombol. Beres!
Oke lah, ane kira cukup sekian. Ane dah ngantuk berat nich.
Wassalamu’alaikum warahmah!
